Faktor yang mempengaruhi berdirinya daulah abbasiyah

RUMAHTEKNOLOGI.COM – Berikut ini Rumah Teknologi akan memberikan Jawaban Mengenai Pertanyaan di bawah ini, semoga dapat memberikan manfaat, dan digunakan sebagai referensi pengetahuan.

Artikel kali ini akan membahas “Faktor yang mempengaruhi berdirinya daulah abbasiyah”

Jawaban ini dapat dijadikan sebagai referensi dan membantu tugas kalian.

Tujuan dibuatnya artikel ini adalah untuk memudahkan anda dalam menemuka jawaban yang telah ada.

Setiap jawaban yang akan dibahas ini tidak bersifat mutlak benar dan teman-teman bisa secara mandiri mencari jawabannya agar bisa lebih eksplor dengan jawabannya.

Dilansir berdasar berbagai sumber, Berikut penjelasan dari “Faktor yang mempengaruhi berdirinya daulah abbasiyah”

Dinasti Abbasiyah adalah dinasti kedua dalam sejarah Islam klasik yang menggantikan dinasti Ummayad. Dinasti ini memerintah selama lebih dari 5 abad.

Dikutip dari buku Sejarah Pendidikan Islam karya J. Suyuthi Pulungan, nama dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi yang bernama al-Abbas bin Abd al-Muthalib bin Hasyim.

Abbasiyah berpikir bahwa mereka lebih berhak atas kekhalifahan Islam, bukan Bani Umayyah. Sebab, mereka memiliki silsilah yang lebih dekat dari Nabi Muhammad SAW dari Bani Hasyim.

Pendiri dinasti Abbasiyah adalah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan nama Abdul Abbas As-Saffah. Dinasti ini berdiri antara tahun 132-656 H/750-1258 M. Daulah ini memerintah selama lima setengah abad, kurang lebih 524 tahun.

Upaya mengalahkan Dinasti Bani Umayyah dilatarbelakangi oleh gagasan siapa yang harus memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad. Bani Hasyim (Alawiyun) sebagai keturunan Nabi pernah mengatakan hal ini. Ada tiga kota utama yang menjadi pusat kegiatan untuk menegakkan kekuasaan paman Nabi, Abbas bin Abdul Muṭalib, yaitu kota al-Humaymah sebagai pusat perencanaan, kota Kufah sebagai kota penghubung, dan kota Khurasan. sebagai kota pergerakan langsung (lapangan).

BACA JUGA:  apa hubungan persatuan dan keberagaman

Keluarga Abbas melakukan berbagai strategi dan persiapan di ketiganya. Salah satunya dengan propaganda bahwa Bani Abbasiyah lebih berhak atas khilafah Islam dibandingkan Bani Umayyah. Mereka adalah keturunan Bani Hasyim yang garis keturunannya lebih dekat dengan Nabi. Pemimpin gerakan ini adalah Imam Muhammad bin Ali, anggota keluarga Abbasiyah yang tinggal di Humaymah. Muhammad bin Ali tidak menonjolkan nama Bani Abbasiyah, melainkan menggunakan nama Bani Hasyim untuk menghindari perpecahan dengan kelompok Syiah. Strateginya berhasil menggabungkan berbagai kekuatan, terutama antara pendukung fanatik Ali bin Abi Thalib dengan kelompok lain.

Untuk melakukan berbagai dakwah, ditunjuk 12 propagandis yang tersebar di berbagai wilayah, seperti di Khurasan, Kufah, Irak, dan Mekkah. Di antara propagandis terkenal adalah Abu Muslim Al-Khurasani, seorang tokoh masyarakat di Khurasan yang merasa dirugikan selama Dinasti Umayyah. Isu ketidakadilan yang diangkatnya mendapat banyak sambutan dari berbagai kalangan, terutama yang tidak senang dengan pemerintahan Bani Umayyah. Perwakilan kelompok menyatakan kesetiaan kepada Abu Muslim al-Khurasani untuk membela Bani Hasyim dan Bani Abbas.

Gerakan dan dakwah yang dimotori oleh Muhammad bin Ali mendapat respon yang luar biasa dan respon positif dari masyarakat, juga dari kelompok Mawali. Pada tahun 743 M Muhammad bin Ali meninggal. Gerakannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Ibrahim al-Imam. Ia mengangkat Abu Muslim Al-Khurasani sebagai panglima perang karena sangat piawai menarik simpati berbagai kalangan. Suatu hari, ia berhasil mengumpulkan warga dari sekitar 60 desa di Merv. Abu Muslim mengajak kelompok yang kecewa terhadap Bani Umayyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada Bani Hasyim, baik dari keturunan Abbas bin Abdul Muṭalib maupun dari keturunan Ali bin Abi Thalib.

BACA JUGA:  kelas karyawan apakah ada kkn

Setelah Ibrahim al-Imam wafat, gerakan tersebut dilanjutkan oleh saudaranya yang bernama Abdullah bin Muhammad yang lebih dikenal dengan nama Abul Abbas as-Ṣaffah. Ia kemudian mempercayai dan mengangkat Abu Muslim Al-Khurasani sebagai panglima perang. Gabungan Abul Abbas as-Ṣaffah dengan Abu Muslim Al-Khurasani menjadi kekuatan besar yang sangat ditakuti Bani Umayyah.***